Kenalan dengan Reksa Dana

“Reksadana? Barang macem ape tuh?”

“Gile lu main saham ya? Bukan main, ga takut rugi ??!!”

“Aku ga mau ikut ikutan kaya gituan, Judi Judi!!”

Stop stop.. banyak sekali temen yang nyinyir tentang hal hal berbau dengan reksadana ini. Tapi intinya satu sih, takut rugi. Yah rugi, rugi uang rugi waktu rugi tenaga banyak macemnya deh. Wajar ketakutan begitu, ketakutan itu berawal dari kurangnya ilmu dan jam terbang. Jika tidak dicari ilmunya dan tidak dimulai terbangnya ya berarti yang sedikit tetaplah sedikit, ketakutan tetaplah ketakutan. Jangan protes! Resapi dan akui saja, ayo kita pikirkan bareng bareng.

FYI, Reksa dana itu instrument investasi termasuk paling sederhana loh.. bahkan salah satu yang paling murah. Faktanya sekarang kita bisa beli reksadana cuma 100 ribu rupiah (1 May 2017), bahkan ada yang 10 ribu rupiah. Beneran? Ia bener. Kenapa sederhana? Ya sederhana jangan dibikin ribet, kita cuma beli produknya, didiemin dia kerja sendiri, gak perlu kita pantau setiap menitnya. Karena dengan membeli reksa dana kita juga sudah sekalian membiayai orang yang bertugas untuk mengolah uang kita (Manajer Investasi). Emang investasi lain ada yang harus dipantengin? Ada! Nanti deh dibahas di tulisanku yang lainnya ya. Jadi cocok banget untuk pemula yang takut banget sama istilah rugi, tinggal duduk manis, let see the report!

Kenapa sih harus reksa dana? Apa bedanya sama nabung biasa?

Nah ini dia, kita usaha gimana cari caranya supaya uang kita gak tergerus inflasi berdasarkan table berikut didapat bunga inflasi.

Sumber: http://www.bi.go.id/id/moneter/inflasi/data/Default.aspx

Coba bandingkan dengan bunga bank yang besarannya sekitar 0 – 2%. Selain itu bunga bank sekarang tiap hasilnya dipotong pajak 20% loh, sedangkan reksadana tidak. Uang kita akan tergerus inflasi kan?

Jadi gimana? ok kita kenalan sama reksadana yuk =D

“Reksadana? Barang macem ape tuh?”

Menurut Undang Undang Pasar Modal nomor 8 Tahun 1995 pasal 1 ayat (27): “ Reksadana adalah wadah yang dipergunakan untuk menghimpun dana dari masyarakat Pemodal untuk selanjutnya diinvestasikan dalam portofolio efek oleh Manajer Investasi.

Ok, itu sih versi text booknya, tapi simpelnya gini bayangkan Ada orang pingin usaha, usahanya butuh modal terus dia cari orang yang mau ngebiayain. Ada nih  Om Om yang namanya “Manajer Investasi”, “Panggil saja aku Om Manajer” . Om mau biayain usaha kamu, tapi sayangnya Om juga uangnya dikit jadi Om cari uang dulu ya. Nah si Om ini yang ngumpulin dana sama kamu untuk sama sama modalin usaha. Yang kamu beli dari si Om itu adalah reksadana. Biar uang kamu ga dibawa kabur sama Om, nah uang kamu ditransfer ke Bank Custodian (Bank bukan milik si Om). Terus uang itu di atur atur deh sama om mau di invest dimana, kamu tinggal nunggu report tiap bulan dari Om.

Ada lagi istilah NAB, apalagi tuh?

NAB (Nilai Aktiva Bersih) merupakan salah satu tolak ukur dalam memantau hasil dari suatu Reksa Dana. NAB per saham/unit penyertaan adalah harga wajar dari portofolio suatu Reksadana setelah dikurangi biaya operasional kemudian dibagi jumlah saham/unit penyertaan yang telah beredar (dimiliki investor) pada saat tersebut.

Kenapa ga saham aja? Atau properti atau ternak sapi yang lebih untung?

Ok seperti dibilang di awal, reksa dana adalah instrument investasi yang paling sederhana lho. Istilahnya mau belajar invest tapi takut rugi Karena konsekuensinya. Saham OK, Properti OK, Sapi juga OK. Semuanya ada untung ruginya, yang rugi adalah yang gak mau belajar dan yang gak mau bergerak. Bukankah jika hari ini kita sama dengan hari kemarin kita sudah termasuk golongan yang merugi? Betul apa betul? Prinsipnya Low Risk, Low Return – High Risk High Return, dan sejauh mana kita bisa mengontrol risknya, Karena yang berbahaya adalah kita berjalan tanpa ilmu sehingga tanpa satupun risk yang bisa kita control, hasilnya kita terkontrol oleh risk. Mudah mudahan kita semua gak gitu yah he.  Jika mampu dua duanya kenapa gak parallel? Semua hal akan sempurna hasilnya jika kita focus totalitas 100% deh pokoknya. Di dunia investasi, apakah pernah dengar istilah “never put all your egg in the same basket” atau jangan simpen semua telur yang kamu punya di satu keranjang. Karena ketika salah satu keranjangmu kecelakaan, kamu masih punya keranjang lain yang menghasilkan. Kok bertentangan ya sama pernyataan focus sebelumnya? Engga sebenernya, keduanya bisa jalan beriringan,  kita juga harus tetep focus untuk belajar cari ilmu dan disiplin terhadap investasinya. Nanti kamu akan masuk ke mindset dari “Invest? Untung atau rugi ya?” menjadi “Mana nih asset kamu yang bisa menguntungkan lebih besar dan lebih cepat?”.

Reksa Dana memiliki beberapa manfaat yang menjadikannya sebagai salah satu alternatif investasi yang menarik antara lain:

  1. Dikelola oleh manajemen profesional Pengelolaan portofolio suatu Reksa Dana dilaksanakan oleh Manajer Investasi yang memang mengkhususkan keahliannya dalam hal pengelolaan dana. Peran Manajer Investasi sangat penting mengingat Pemodal individu pada umumnya mempunyai keterbatasan waktu, sehingga tidak dapat melakukan riset secara langsung dalam menganalisa harga efek serta mengakses informasi ke pasar modal.
  2. Diversifikasi investasi Diversifikasi atau penyebaran investasi yang terwujud dalam portofolio akan mengurangi risiko (tetapi tidak dapat menghilangkan), karena dana atau kekayaan Reksa Dana diinvestasikan pada berbagai jenis efek sehingga risikonya pun juga tersebar. Dengan kata lain, risikonya tidak sebesar risiko bila seorang membeli satu atau dua jenis saham atau efek secara individu.
  3. Transparansi informasi Reksa Dana wajib memberikan informasi atas perkembangan portofolionya dan biayanya secara kontinyu sehingga pemegang Unit Penyertaan dapat memantau keuntungannya, biaya, dan risiko setiap saat.Pengelola Reksa Dana wajib mengumumkan Nilai Aktiva Bersih (NAB) nya setiap hari di surat kabar serta menerbitkan laporan keuangan tengah tahunan dan tahunan serta prospektus secara teratur sehingga Investor dapat memonitor perkembangan investasinya secara rutin.
  4. Likuiditas yang tinggi Agar investasi yang dilakukan berhasil, setiap instrumen investasi harus mempunyai tingkat likuiditas yang cukup tinggi. Dengan demikian, Pemodal dapat mencairkan kembali Unit Penyertaannya setiap saat sesuai ketetapan yang dibuat masing-masing Reksadana sehingga memudahkan investor mengelola kasnya. Reksadana terbuka wajib membeli kembali Unit Penyertaannya sehingga sifatnya sangat likuid.
  5. Biaya Rendah Karena reksadana merupakan kumpulan dana dari banyak pemodal dan kemudian dikelola secara profesional, maka sejalan dengan besarnya kemampuan untuk melakukan investasi tersebut akan menghasilkan pula efisiensi biaya transaksi.

Ada Resikonya gak?

adalah tentunya..

  1. Risiko menurunnya NAB (Nilai Aktiva Bersih) Unit Penyertaan Penurunan ini disebabkan oleh harga pasar dari instrumen investasi yang dimasukkan dalam portofolio Reksadana tersebut mengalami penurunan dibandingkan dari harga pembelian awal. Penyebab penurunan harga pasar portofolio investasi Reksadana bisa disebabkan oleh banyak hal, di antaranya akibat kinerja bursa saham yang memburuk, terjadinya kinerja emiten yang memburuk, situasi politik dan ekonomi yang tidak menentu, dan masih banyak penyebab fundamental lainnya.
  2. Risiko Likuiditas Potensi risiko likuiditas ini bisa saja terjadi apabila pemegang Unit Penyertaan reksadana pada salah satu Manajer Investasi tertentu ternyata melakukan penarikkan dana dalam jumlah yang besar pada hari dan waktu yang sama. Istilahnya, Manajer Investasi tersebut mengalami rush (penarikan dana secara besar-besaran) atas Unit Penyertaan reksadana. Hal ini dapat terjadi apabila ada faktor negatif yang luar biasa sehingga memengaruhi investor reksadana untuk melakukan penjualan kembali Unit Penyertaan reksadana tersebut. Faktor luar biasa tersebut di antaranya berupa situasi politik dan ekonomi yang memburuk, terjadinya penutupan atau kebangkrutan beberapa emiten publik yang saham atau obligasinya menjadi portofolio Reksadana tersebut, serta dilikuidasinya perusahaan Manajer Investasi sebagai pengelola Reksadana tersebut.
  3. Risiko Pasar Risiko Pasar adalah situasi ketika harga instrumen investasi mengalami penurunan yang disebabkan oleh menurunnya kinerja pasar saham atau pasar obligasi secara drastis. Istilah lainnya adalah pasar sedang mengalami kondisi bearish, yaitu harga-harga saham atau instrumen investasi lainnya mengalami penurunan harga yang sangat drastis. Risiko pasar yang terjadi secara tidak langsung akan mengakibatkan NAB (Nilai Aktiva Bersih) yang ada pada Unit Penyertaan Reksadana akan mengalami penurunan juga. Oleh karena itu, apabila ingin membeli jenis Reksadana tertentu, Investor harus bisa memperhatikan tren pasar dari instrumen portofolio Reksadana itu sendiri.
  4. Risiko Default Risiko Default terjadi jika pihak Manajer Investasi tersebut membeli obligasi milik emiten yang mengalami kesulitan keuangan padahal sebelumnya kinerja keuangan perusahaan tersebut masih baik-baik saja sehingga pihak emiten tersebut terpaksa tidak membayar kewajibannya. Risiko ini hendaknya dihindari dengan cara memilih Manajer Investasi yang menerapkan strategi pembelian portofolio investasi secara ketat.

Ok, kita mau beli reksadana.

Dimana kita membeli reksadana?

Sekarang udah banyak banget Manager Investasi penjualan reksadana, biasanya perusahaannya ada embel embel ” bla bla bla asset management” (Ga harus tapi ya) , bahkan sudah ada beberapa platform yang menyediakan search engine dan sebagai pembanding antara kinerja dari manager investasi yang satu dan dengan manager investasi yang lain. Keliatan deh performanya, jadi gampang banget..

Jenis Jenis Reksadana apa aja sih?

Sebelum itu ayo kita tentukan tujuan investasi kita dulu yaa..

Kapan kira kira uangnya mau dicairkan? Jangka Panjang / Menengah / Pendek? Pilihan jangka panjang bukan berarti kita gak boleh ngambil uangnya dalam jangka pendek loh, tapi lebih ke performance nya, alias udah menguntungkan atau belum. Karena beberapa produk justru lebih terasa jika sudah diinvestasikan dalam jangka waktu tertentu.

  • Reksadana Saham. (Jangka Panjang, t > 5 thn)

Reksadana saham adalah reksadana yang melakukan investasi sekurang-kurangnya 80% dari portofolio yang dikelolanya ke dalam efek bersifat ekuitas (saham). Efek saham umumnya memberikan potensi hasil yang lebih tinggi berupa capital gain melalui pertumbuhan harga-harga saham dan deviden. Reksadana saham memberikan potensi pertumbuhan nilai investasi yang paling besar demikian juga dengan risikonnya.

  • Reksadana Campuran. (Jangka Menengah, t = 3- 5 thn)

Reksadana campuran adalah reksadana yang melakukan investasi dalam efek ekuitas dan efek hutang yang perbandingannya tidak termasuk dalam kategori reksadana pendapatan tetap dan reksadana saham. Potensi hasil dan risiko reksadana campuran secara teoretis dapat lebih besar dari reksadana pendapatan tetap namun lebih kecil dari reksadana saham.

  • Reksadana Pendapatan Tetap. (Jangka Pendek, t <2thn)

Reksadana pendapatan tetap adalah reksadana yang malakukan investasi sekurang-kurangnya 80% dari portofolio yang dikelolanya ke dalam efek bersifat hutang. Risiko investasi yang lebih tinggi dari reksadana pasar uang membuat nilai return bagi reksadana jenis ini juga lebih tinggi tetapi tetap lebih rendah daripada reksadana campuran atau saham.

  • Reksadana Pasar Uang. (Jangka Pendek, t <2thn)

Reksadana pasar uang adalah reksadana yang melakukan investasi 80% pada efek pasar uang yaitu efek hutang yang berjangka kurang dari satu tahun, seperti SBI, deposito. Reksadana pasar uang merupakan reksadana yang memiliki risiko terendah namun juga memberikan return yang terbatas.

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.